Tuesday, May 22, 2012

Otak dan Kejiwaan

Gw selalu tertarik dengan segala macam bahasan yang ada hubungannya dengan otak dan kejiwaan. Dari dulu. Dulu banget. Mungkin karena saking menikmati keingintahuan gw tentang otak dan kejiwaan, yang mana pengetahuan tentang kedua hal ini bia gw peroleh dari novel dan banyak artikel, dan kesemuanya itu gak membutuhkan usaha berlebih agar gw bisa mengerti tentang itu. Mungkin itu, yang bikin gw bahkan gak pernah kepikiran untuk mengambil jalur pendidikan tentang kedua hal itu,.

Mungkin gw keburu takut dengan banyak buku2 tebal dan quote para ahli tentang otak dan kejiwaan. Entahlah.

Gw selalu tertarik dengan orang memiliki kepribadian ganda atau beberapa "perbedaan" lainnya dalam hal kejiwaan. Walaupun, gw juga baru ngerti tentang hal itu dari novel, jurnal, buku, dan artikel aja.

Gw sering berpikir dari segi pemikiran, apa sih yang bener-bener membedakan orang waras dengan orang gila? Apakah masalah mayoritas dan minoritas?? Kebanyakan dari kita melihat ember berisi air ya ember berisi air paling ujung-ujungnya buat nyuci ato mandi, tapi Orang gila mengambil kail pancing dan memancing di atasnya, mungkin mereka melihat ember berisi air sebagai danau bening berisi banyak ikan yang dikelilingi pepohonan hijau, mungkin mereka hanya sedang hidup di dalam otak kanan mereka.

Gw sering berpikir, bagaimana bisa orang dengan skizofrenia menganggapi ilusi mereka secara nyata? Sementara kita yang normal mampu membedakan mana yang benar2 nyata dan mana yang hanya ilusi. Salah satu film recommended dari gw tentang hal ini adalah A Beautiful Mind
  Gimana orang bisa hidup dengan khayalan yang bahkan dia sendiri gak sadar, selama bertahun2. Dan (jadinya spoiler deh), khayalan ini menurut gw, membantu si John Nash, as main character, menjadi seorang pemenang nobel nantinya. Oiya Shutter Island juga salah satu film bagus tentang ini.

Gw sering berpikir, gimana orang dengan kepribadian ganda bisa terbentuk. Gimana bisa dalam satu tubuh, tiba2 lo jadi misalnya Debby yang fasih Bahasa Inggris dengan dialek British dan fasih bermain gitar, sementara setelah beberapa saat lo menjadi Diana yang pemalu, berbahasa Inggris dengan terbata-bata dan sangat suka membaca buku science, dan setelah beberapa saat karena terpicu oleh suatu kejadian lo berubah bahkan menjadi Jeffry yang charming, berpendirian keras dan sangat ahli membuat sketsa wajah?? Itu tadi cuma karangan gw aja ya, tapi teknisnya mirip2 seperti itu.
Gimana?? Yg gw tangkep adalah, orang2 dengan 'perbedaan' ini selalu, nggak pernah nggak jenius. Coba tonton film Identity nya John Cusack

 dan baca buku Sybil,
yang isinya kisah nyata ditulis oleh Flora Rheta Schreiber. Ternyata ada filmnya juga, gw baru tau~

 Yang simple aja deh. Gimana sebuah mimpi muncul, sebiuah halusinasi yang bahkan saat kita sadar, kita sendiri gak pernah kepikiran bahwa kita mampu menciptakan khayalan segitu gila nya, segitu kerennya. Kayak mimpi gila gw di post-an sebelumnya. Sebuah mimpi, ingatan boong2an kalo kata gw. Masalahnya kadang kita mimpi, dan itu terus2an teringat, padahal kejadian aja kagak, pengen meng-khayal tentang itu aja kagak. Tapi, ada suatu perasaan yang bahkan timbul dari sesuatu yang tidak terjadi. Kayak misalnya lo mimpi serem, pasti bangun2 lo ada kayak perasaan takut kan?? Nah itu maksud gw.

Beberapa ilmuwan bilang, mimpi itu sebenernya membantu kita tetap 'waras'. Mimpi mengkompensasi hal-hal atau luapan emosi yang gak bisa kita keluarkan saat kita sadar. 

Oiya ini ada link video bagus, dari TED.com tentang seorang ilmuwan peneliti Otak yang kena stroke dan gimana dia menjabarkan hal tersebut. Bukan dari sisi  tenikal medisnya, tapi ada unsur psikologisnya : Jill Bolte Taylor's Stroke of Insight disitu ada pilihan subtitle ada sub Indonesian nya juga kok :D

NB : Nama buku dan film diatas link yg bisa lo buka, tapi bukan link downloadnya sih, hehehe..

Saturday, May 19, 2012

Epic, Dream is Epic

Tadi malem gw mimpi, entah ini dongo, keren, ato gimana. Gw sendiri bingung, bisa2nya gw mimpi dan berimajinasi sampe segininya pas gw tidur. Kayaknya gw lebih jenius kalo pas lagi tidur deh.

Jadi tokoh utama di mimpi ini adalah gw, Ramon Y Tungka yg terlihat menua dan agak brewok as bokap gw (gw juga gak tau kenapa si Ramon ini yang muncul), dan seorang wanita cantik berambut panjang, mukanya gw masih inget, tapi gw gak tau itu siapa, berperan sebagai emak gw, dan 1 anak abg cewek, yg rambutnya tipis panjang, agak kurus, gw masih inget sosoknya, tapi gw juga gak tau itu siapa. Mimpi gw tadi malem ada scene yang black and white dan berwarna (macam foto aja).

Anggaplah ini sebuah cerpen-yang-sedikit-gila dari gw..

Hari udah menjelang gelap, transisi dari senja menuju malam, ketika Papa keluar dari kamar dengan membawa tas gede dan 2 ransel ukuran sedang, yang biasa Aku dan Jeni (ceritanya dia adek gw, gak tau namanya siapa, panggil aja Jeni) pakai untuk sekolah. Papa mengajakku dan Jeni untuk jalan2, Mama nggak diajak, dan ternyata Mama sudah tahu kalau Aku dan Jeni bakal diajak jalan2 sama Papa. Mama mengantarku dan Jeni sampai depan rumah. Aku masih inget senyumnya, Mama melambai pada kami, dan bilang "Ati2 yaaa, have fun.."

Aku, Jeni, dan Papa langsung menuju stasiun. Aku nggak tau, ini musim libur atau apa, yang pasti stasiun rame, penuh orang lalu lalang, penuh calon2 penumpang, penuh tukang jualan. Bising suara kereta lewat dan hiruk-pikuk orang2 yang ngobrol di sekitar kami membuat Aku, Jeni, dan Papa gak banyak ngobrol. Kami cuma nunggu kereta dateng. Gak lama kereta dateng, kami naik ke kereta dengan susah payah, karena semua orang juga berebutan naek.

Akhirnya, Aku, Jeni, dan Papa duduk juga di dalem kereta. Aku bingung, kenapa kami naek kereta ekonomi. Waktu itu keadaaannya desek2an banget. Dan Aku udah terlalu capek untuk nanya2, sampe akhirnya Aku tidur (Gw juga bingung, gimana orang yg lagi tidur, bisa mimpi tidur juga..)

Entah gimana kira2 pagi2 buta bangeet. Kereta berhenti, kata Papa "Kita turun di sini.." Lalu Aku, Papa, dan Jeni keluar stasiun, dan tau2 udah sampe di suatu lapangan luaaass, yang isinya semacam pasar gitu, dan itu udah rame bangeeeet. Disana Papa mengajakku dan Jeni makan, tempatnya lesehan, Aku masih ingat makanan yang ku pesan di situ :nasi, ayam kecap, sambel, tahu, dan lalapan (konyol sumpah~). Dan yang masih ku ingat, pasarnya mirip pasar malem yang banyak lampu2, orang jualan, lagu odong2, jajanan2 anak2, dan, banyak anak kecil juga..

Gak lama kami terus naek mobil bak terbuka, barengan sama sayur2 yang mau diangkut ke pasar induk lokal. Dan Aku masih gak tau itu Aku ada dimana. Sampe akhirnya kami sampe di sebuah perumahan yang agak rame, dan masuk rumah itu. Selesai beres2, Aku, Jeni, dan Papa keluar rumah buat nongkrong2, waktu itu udah siang, karena mataharinya terik banget. Di depan rumah lagi ada pedagang ember dan peralatan plastik yang biasa jualan pake mobil losbak.

Jeni berdiri di situ, dia cuma liat2 ibu2 yang lagi ada rame mau belanja. Abang2 pedagang botak yang pake sweater rajut item, yang pake tindikan di telinga kirinya. Sampe akhirnya, yang sampai sekarang Aku nggak bisa inget, gak tau darimana datengnya, dan entah itu siapa.. [OKE! Bagian ini termasuk adegan SADIS, gw sendiri kalo inget masih merinding]

Sebuah samurai mengkilat mengenai kepala Jeni, tepat di kepalanya bagian samping, mengiris di antara Mata dan tulang pipi. Anehnya, gak ada darah yang keluar sedikit pun. Ibu2 yang lagi belanja pun gak nampak terganggu dengan adegan tersebut. Abang2 pedagang botak masih terlihat bersemangat menawarkan dagangannya, dia bahkan sempet senyum kepadaku.

Papa berdiri nggak jauh di belakang tempatku berdiri, agak masuk di garasi. Matanya menatap ke arah dimana Jeni berada. Tapi Papa terdiam. Kacamatanya masih menepel di wajahnya, tangannya masih terlipat di depan dada, seakan2 gak ada sesuatu yang perlu ditolong. Anehnya, Aku waktu itu juga gak terlalu panik. Aku ikut terdiam. Sampai segerombolan ibu2 tersebut ikut mencabik-cabik Jeni, lagi2, gak ada setetespun darah yang terlihat. Sampai segerombolan ibu2 itu pulang membawa kantong kresek item, yang berisi cabikan daging dari tubuh Jeni. (Gw tau, cerita gw ini mulai terdengar gila..sadis..)

Aku berbalik, berjalan ke arah Papa. Ada sedikit air mata menggenang di mataku. Entah sedih, takut, entahlah. Papa mengusap kepalaku, lalu merangkulku, dan kami masuk ke dalam rumah. Dan segalanya berjalan seperti biasa. Minum teh, nonton TV, normal, seolah2 Jeni gak pernah berangkat bareng Papa dan Aku, seolah2 sabetan samurai gak pernah nyangkut di kepala Jeni.. Se-simple itu..

Sampai keesokan harinya, Papa mengajakku untuk membeli sepatu di suatu toko, tapi toko sepatu tersebut malah mirip kayak goa. Dan Aku entah bagaimana, dengan antusiasnya asik melihat2 sepatu disana, dan selalu tertarik sama yang berwarna Pink (as usual :). Seolah2 Jeni nggak pernah berangkat bareng Aku dan Papa, seolah2 sabetan kemaren cuma ilusi, cuma mimpi yang muncul saat aku terbangun.

Sampai Aku dan Papa memutuskan pulang ke rumah, dimana Mama berada. Sampai rumah, Mama sudah menunggu ku. Terduduk di kursi besi warna putih. Daster kremnya terlihat berantakan, Rambut Mama acak2an, wajahnya kuyu, matanya sembab, dan Mama memang sedang menangis, sambil memegang kantong kresek hitam yang berisi sesuatu.

Tak perlu waktu lama. Kantong kresek itu berisi potongan tubuh Jeni, dan Mama sudah mengetahui hal itu. Jeni kesayangannya Mama. Jeni nya Mama, yang sekarang hanya potongan daging kecil2, bukan lagi sesosok manusia yang bisa dipeluk. Mama marah semarah-marahnya. 

Dia bilang "Kenapa kamu pulang?? Kenapa nggak bawa Jeni pulang? Kenapa kamu nggak nolongin Jeni?? Kenapa kaaakk?? Puas kamu sekarang liat adek kamu tinggal kayak gini??!!" sambil membuka kresek hitam itu. Aku takut. Itu potongannya Jeni, tebakku. Sekilas terlihat daging yang ada goresannya disana ada sedikit bekas darahnya. Tapi makin Aku berusaha fokus, kresek hitam itu hanya berisi dedaunan kering, yang masih hijau, segar, dan dalam jumlah yang banyak. Tak ada yang lain. Lantas kemana Jeni??

Mama marah lagi, kali ini Mama berteriak pada Papa "Kamu juga, Mas? Kenaa kamu gak nolongin Jeni?? Kenapa kamu diem aja?? Kamu udah sekongkol sama Kakak kan buat ninggalin Jeni? Buat misahin aku sama Jeni?? Kamu emang gak pernah sayang ama Jeni kan?!! " Mama bilang itu sambil nangis.

Papa berjalan ke arah Mama, memeluk Mama, sambil hampir ikut menangis. Dialog terakhir yang ku dengar, sebelum semuanya gelap : "Udah, Maa, udaaah.. Jeni udah istirahat di sana. Mama nggak capek?? Kasian Kakak.. Aku sayang Mama sama Kakak.."

Aku bingung, dan semuanya gelap.

Aku menoleh ke arah Papa. Papa tersenyum, tapi Aku tahu, sekuat mungkin Papa menahan agar tidak menangis. Lalu semuanya kembali gelap. Gelap. Aku nggak bisa lihat apa2. Yang ada cuma suara2. Suara Bapak2 yang sepertinya sudah agak tua, suara Papa, dan.... suaraku sendiri..

"Iya, Pak.. Jadi Ibu memang mengalami gejala depresi pasca, meninggalnya Jeni oleh kelainan genetik tersebut, yang membuat Jeni lahir dengan keadaan seperti tersayat2.."
"Sebabnya si Kakak "mengenal" sosok Jeni juga, karena tiap hari Ibu "mengenalkan" Jeni kepada Kakak.."
"Untung Kakak tidak terbawa terlalu jauh. Ilusi Jeni yang terkena sabetan samurai kemaren, yang Kakak ceritakan, menandakan perlahan2 Kakak sudah sadar kalau Jeni cuma hidup di pikiran si Ibu.."

"Mengenai si Ibu, kita cuma bisa terus berusaha. Tapi... saya sendiri juga punya standar batas waktu sendiri, Pak. Kalau sampai bulan depan, Jeni masih tetep ada. Saya nggak bisa apa2 lagi, selain menyarankan agar Ibu di bawa ke sana..."

Sampe akhirnya gelap itu hilang. Dan Aku mendapati kejadian awal itu terulang lagi. Papa muncul, membawa tas besar, tapi kali itu hanya 1 ransel. Mama juga muncul, pakaiannya bagus. Nampaknya kali itu yang akan pergi adalah Aku, Papa, dan Mama. Jeni?? Tak ada nama Jeni di sebut lagi, untuk beberapa saat kemarin, entah beberapa hari atau bulan..

"Mama ikuut?" Kataku sambil mengambil sepatu di rak bersama Mama. Mama tersenyum "Iya, sayang.. Mama mau ikut kalian jalan2..". Kalimat berikutnya menyadarkanku kalau perjalanan ini nggak mungkin biasa2 aja.. "Mama, mau ketemu Jeni, kangen.."

Mama memakai sepatu sport orange-nya, dan memasukkan sebuah pisau dapur yang dibungkus dengan taplak sulaman ke dalam tas coklatnya. "Mama.. Jeni itu..?" Aku tergagap, berusaha mengatakan yang sebenarnya.. Mama bilang "Iya, Jeni nungguin Mama di sana katanya, barusan telepon".

___________________________________________