Hitam. Putih. Abu-abu.
Hitam dan putih, entah dengan komposisi seperti apa, kalo dicampur bakal jadi warna abu2, abu2 tua, abu2 muda, whatever.
Kalo denger orang ngobrol, kadang suka denger "Ya, nggaklah, itu kan relatif". Atau suka denger, dan suka ngucapin juga "Yaah, ganteng itu kan relatif". Atau, yang agak sedikit nyindir: "Ah, hukum yg berlaku itu kan relatif. Relatif tergantung bayaran." hihi,, ampun pemerintaah~~
Kenapa ada relatif? Gak tau. Tanya Einstein, kenapa beliau nyiptain Hukum Relativitas. Haha kiddin'
Emm, tiba2 otak random gw ini mikir, tumben banget sih otak gw bisa dipake mikir.
Mungkin.. Relatif itu ada, karena kita punya kompsisi masing2 buat mencampurkan warna HITAM dan PUTIH, lalu memunculkan ABU2, which is si Relatif itu tadi.
Mm, terserah lo semua, mau menganalogikan Hitam dan Putih sebagai apa. Mayoritas orang menganalogikan Hitam dan Putih sebagai Baik dan Buruk.
(asem, mikir abis gw, mau nulis apalagi yak? topik random gw kali ini kok rasanya berat ya?)
Mm.. Mm.. maap banyak Mm-nya.
Mm, gw sendiri belum memutuskan mau menganalogikan Hitam dan Putih sebagai apa, kita pake aja sudut pandang mayoritas.
Hitam = Buruk
Putih = Baik
Abu2 = Perpaduan Hitam-Putih
Maksud yang mau gw omongin di sini adalah. Gw merasa diri gw itu sering, mostly, berada dalam keadaan Abu2. Gw lupa kapan terakhir bener2 pure Hitam, atau bener2 pure Putih.
Misalnya ya, semua, orang setuju bahwa mencuri itu salah, tapi kadang kita dihadapkan dengan suatu perdebatan batin, beneran salah gak sih dia mencuri? Mm, gw coba bikin ilustrasinya ya:
Kita tahu salah satu tetangga kita, sebut saja Udin, nyolong motor Pak Barja. Kita langsung menghakimi, si Udin adalah HITAM, dia melakukan perbuatan buruk. Kita geram, karena dari cerita korban, motor yang dicuri si Udin itu, adalah motor baru yang dibeli untuk hadiah wisuda anak Pak Barja, setelah Pak Barja menabung selama setahun. Beramai-ramai kita gebukinlah si Udin. Dibawalah si Udin ke kantor polisi. Di kantor polisi, Udin digebukin lagi, karena dia gak bisa cerita tentang alesan dia nyolong motor. Padahal [Fakta pertama]: 3 gigi Udin copot akibat dihajar massa, mata kanan Udin bengkak karena ditonjokin dan punggungnya sangat sakit karena dipukul balok kayu dan ditendangi, sehingga Udin tidak sanggup bercerita. Udin pun akhirnya masuk penjara. Setelah mendapat sedikit perawatan, dan sudah mampu berbicara, Udin pun di sidang. Dalam sidang tersebut, hadirlah orang2 yang memukuli Udin, korban pencurian, dan keluarga Udin sendiri. Massa yang hadir geram, mereka semua melihat si Udin sebagai HITAM, sebagai TERSANGKA. Apalagi saat mereka ingat bahwa motor Pak Barja dibelinya dengan susah payah menabung dan bekerja.
Terjadilah dialog antara Hakim (hakim beneran yak, bukan nama orang) dan Udin
Hakim : "Udin, kapan anda mencuri motor Pak Barja?"
Udin : "Tiga hari yang lalu, pukul 11 malam, Pak."
Hakim : "Bagaimana kronologis sehingga anda bisa mencuri motor Pak Barja?"
Udin : "Jam 10 malam, saya baru saja dari rumah Pak Barja, lalu.."
Hakim : "Tunggu, anda dari rumah Pak Barja jam 10 malam? Meninggalkan rumah Pak Barja jam 10 malam? Atau baru saja sampai dari rumah Pak Barja jam 10 malam?"
Udin : " Saya meninggalkan rumah Pak Barja jam 10 malam."
Hakim : "Baik, silakan lanjutkan cerita anda.. "
Udin : "Pukul 10 malam saya meninggalkan rumah Pak Barja, saya lihat, motor baru Pak Barja, baru saja di pakai oleh adik Pak Barja, dan diparkir di luar pagar rumah dengan keadaan kunci masih menggantung."
Hakim : "Maaf Saudara Udin, tunggu sebentar. Ada keperluan apa anda ke rumah Pak Barja? Apakah pencurian motor ini sudah anda rencanakan sebelumnya?"
Udin : "Tidak, Pak. Saya tidak merencanakan pencurian tersebut..."
HUUUUUUUUUU!!!~~~~~ para penonton bersorak, mencela dan memaki-maki si Udin.
Hakim : "Harap tenang semuanya~ Lalu?"
Udin : "Saya ke tempat Pak Barja, untuk menagih uang saya yang dipinjam oleh Pak Barja, setahun yang lalu."
Penonton hening. Kening Pak Barja berkerut. Hakim merengut.
Udin : "Saya meminta kembali uang tersebut karena saya sedang butuh uang. Perjanjiannya dulu memang, saya dan Pak Barja sepakat, bahwa uang sebesar 5juta tersebut, akan dilunasi secara total dalam tempo 1setengah tahun, kalu dihitung.. berarti 4 bulan lagi."
Hakim : "Lalu?"
Udin : "Namun, Pak Barja menolak mengembalikan uang saya. Padahal saya tidak meminta semuanya, saya hanya meminta setengahnya saja. Emm, bukan setengahnya bahkan saya hanya meminta 2juta, saya mengerti bahwa anak Pak Barja baru saja wisuda, Pak Barja juga baru saja membeli motor. Tapi... saya sangat membutuhkan uang tersebut. Harapan saya Pak Barja bisa mengembalikan dulu uang saya, barang 2juta, tapi Pak Barja malah membentak saya, dan menuduh saya mau menipu dia dengan meminta uang saya sebelum jatuh tempo"
Hakim : "Untuk apa uang tersebut rencananya akan anda pakai?"
Udin : "Seminggu yang lalu, anak saya sakit demam berdarah, karena saya telat memeriksakannya ke dokter, begitu saya periksakan seminggu yang lalu, ternyata kondisi anak saya sudah parah, kata dokter trombositnya sudah turun sekali, anak saya sudah kehilangan banyak cairan, dan darahnya sudah mulai mengental. Begitu sampai rumah sakit, anak saya langsung dimasukkan ke ruang ICU, karena... sudah terlalu parah"
Pada state ini, mulailah HITAM yang tergambar di benak para penonton, perlahan-lahan bercampur dengan warna PUTIH, dengan kadar yang berbeda tiap orangnya. Beberapa mungkin, warna PUTIHnya tak cukup untuk mengaburkan warna HITAM. Beberapa mungkin warna PUTIHnya sanggup membuat gabungan HITAm-PUTIHnya menjadi ABU2 muda. Itu juga yang akan terjadi di scene selanjutnya.
Hakim :"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"
Udin : "Perawatan di ICU tidaklah murah, Pak. Bahkan saya sudah meminta gaji bulanan saya agar dikeluarkan lebih awal, supaya bisa membayar biaya rumah sakit dan obat2an tapi gaji saya masih kurang, buat bayar biaya rumah sakit. Sudah kesana kemari saya ngutang Pak, sama teman2 saya di pabrik. Bahkan, tabungan anak saya yang masih SMA, yang rencananya mau dia pake buat masuk kuliah, saya pinjem dulu, Pak. Saya malu banget, Pak."
Hakim : "Lalu, itu sebab anda mencuri??"
Udin : "Hhh... Iya Pak. Kondisi anak saya masih belum stabil, masih perlu perawatan dan obat2an. Saya takut, Pak. Saya takut kehilangan anak saya. Cukup sekali saya kehilangan anak saya, Pak."
Hakim : "Tapi anda tahu kan? Bahwa mencuri adalah melanggar hukum? Dan bisa membuat anda masuk penjara??"
Udin : "Iya, saya tahu, Pak. Dari awal saya memberanikan untuk mencuri motor Pak Barja, rencananya saya akan mengaku dan menyerahkan diri setelah berhasil menjual motor Pak Barja dan melunasi biaya rumah sakit. Tapi.."
Hakim : "Tapi, rupanya anda keburu ketahuan dan kepergok massa ya? Ha-ha-ha"
Emm, ngena gak sih ilustrasi gw yang panjang banget ini??
Intinya, maksud gw.. yah, hidup gak selamanya tentang hitam dan putih. Benar dan salah. Sering kita berada di state abu2. Terkadang lebih banyak campuran hitamnya atau putihnya.
Kenapa abu2 itu ada? Empati. Simpati.
Saat gw memandang seseorang dengan pandangan HITAM atau PUTIH, bakal susah buat gw bisa respek sama orang itu, ramah sama orang itu, mau membantu orang itu, dan lainnya. Tapi saat gw berada di state abu2, dimana gw memandang KEJELEKAN DIA ADA SISI BENERNYA atau KEBAIKAN DIA ADA SISI SALAHNYA juga, gw bisa lebih netral dalam bersikap, gw bisa lebih berempati dan bersimpati sama orang itu.
Fiuuuh~ selesai juga ini postingan. Sekian, terima kasih :D
Nais posting... ^^
ReplyDelete*Entah kenapa kok itu mirip ide (pikiran) saya kemaren malem y?? hahaha #Keduluan
^^d
Bukankah ketidak pastian itu malah justru menimbulkan ketidak netralan? Dalam kasus itu, kalo komposisi hitam:putih dr Hakin 50:50
so what the sentence for Udin?
#MikirLagi
Ketidakpastian, soalnya semua yg ada itu ketidakpastian. yang pasti cuma Tuhan, waktu yg terus brjalan, dan kematian :D hahaha..
ReplyDelete#NgomongApaSihGue
Kalo komposisi dari hakim 50:50, itu kan hatinya dia aja, pertimbangan hukumnya juga ada kayaknya #sotoy :D
Btw, maksih udah komen MasDit :)
mmm...mmm
ReplyDeletekalau menurut aku sih malah state abu2 itu menunjukkan kebimbangan (ke-galau-an kalo bahasa anak sekarang :P ) dimana kita susah untuk mengambil keputusan. Nah kalo dari ilustrasi di atas, hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah mencari tahu faktor apa yang membuat udin mencuri. Perlu diketahui, setiap tindakan seseorang itu selalu punya alasan/latar belakang yg membuat dia mengambil sikap tersebut.
Kita tidak perlu menjadi abu2 untuk mengetahui alasan Udin mencuri, sebaiknya kita berada di state putih agar kita lebih rasional mengambil keputusan. Karena state abu2 lebih menekankan perasaan dibanding tindakan logis yang akan diambil..
:D
#tahu dah benar apa kaga haha
hastag terakhir abang itu berarti state abu2 lho~ hahahaha.. ^^v
ReplyDeletenice posting mbae . follow2an blok yuk :D
ReplyDeleteanw gw suka fontnya deh :)
-ivonne-