Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

04 June 2014

Sehari Semalam di Segara Anakan





Menikmati Malam di Segara Anakan

Menyantap mie instan, teh hangat, dan biskuit sebelumnya tak pernah senikmat ini. Mungkin karena perut sedang lapar,badan lagi capek, dan yah.. cuma itu yang bisa gue dan teman-teman makan, saat itu. Bukan, ini bukan drama anak kosan di akhir bulan. Ini cerita di kala kemah di Segara Anakan.

Menenggak air putih sebelumnya tak pernah selega ini. Ini karena kami menjatah konsumsi air putih supaya tetap ada air minum hingga esok hari.

Dengan badan yang penuh keringat, tepat sebelum matahari terbenam kami tiba di Segara Anakan, setelah hampir 2 jam menyusuri hutan yang becek dan berlumpur bekas hujan malam sebelumnya. Sesegera, tubuh yang penuh keringat ini berlari tak terkendali tatkala melihat hamparan pantai terbentang di depan mata. Akhirnya, gue sampe juga di sini.

Diiringi dengan gerimis, kami membangun tenda. Ada 2 tenda yang dibangun, yang 1 berhasil berdiri dengan baik, yang 1 lagi, bisa, tapi bahkan tendanya nggak bisa dibuat tempat berteduh sambil duduk karena saking cepernya, entahlah. Beruntung hujan tak jadi datang, sehingga kami bisa memasak makanan malam itu di luar tenda dengan aman dan nyaman.

Angin laut bertiup, kadang membuat api kompor mati. Bau asin dan laut bersliweran, segar. Suhu malam itu tak bisa disebut panas, namun juga tak terlalu dingin. Angin malamnya Bandung masih belum tertandingi. Seusai makan, kami mengobrol, selanjutnya, ada yang tidur di tenda dan ada yang masih lanjut mengobrol hingga lewat tengah malam.

Lepas tengah malam, perlahan langit menjadi ramai penuh bintang. Ditambah deburan ombak yang ada di balik tebing sana, ombak Samudra Hindia, membuat rasanya tak ingin tidur. Sayang untuk melewatkan momen seperti ini. Namun apa mau di kata, esok harinya kami harus menempuh perjalanan kembali ke Malang.









Pantulan Matahari Pagi di Samudra Hindia

Akibat tidur terlalu malam, gue bangun kurang pagi dan melewatkan momen sunrise. Sunrise paling keren di Segara Anakan adalah jika lo memanjat tebing yang menghadap ke Samudra Hindia. Dari situ lo akan  melihat matahari muncul lalu perlahan menerangi tebing dengan cahayanya yang kuning keemasan dan menimbulkan pantulan di riak gelombang Samudra Hindia. Sayang gue kesiangan, tapi tetep sih, kebagian dikit kok matahari paginya.

Seusai menikmati sunrise, kami sarapan, lalu bermain-main di pantai. Sulit rasanya untuk nggak betah di sana. Bayangkan, kali ittu cuma ada 2 rombongan yang kemah, dan yang satunya pulang pagi-pagi. Otomatis untuk beberapa saat Segara Anakan hanya milik kami.

Berenang di airnya yang hijau-biru. Menaiki pohon dan lompat ke air yang ada di bawahnya dari dahan pohon yang tinggi. Sekedar berenang-berenang mengapung sambil memandangi pepohonan di tebing beserta monyet yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Lupakan yang namanya takut hitam kebakar matahari. Lupakan yang namanya sunblock. Gue udah nggak mikir itu lagi, bahkan.

Ketika matahari semakin tinggi, artinya kami harus makan siang. Packing. Pulang. Berat rasanya.

Katanya bagian Pulau Sempu sudah jadi cagar alam dan tak boleh dimasuki wisatawan. Tak heran, mungkin karena banyaknya sampah yang tertinggal sehingga merusak eskosistem Pulau Sempu. Memang, banyak sampah menumpuk di pinggiran tebing tempat tenda kami berada. Padahal, tak sulit membawa kembali sampah yang kita hasilkan, nggak ada berat-beratnya.

Maka dari itu, dilema memang. Di sisi lain ingin rasanya mengeksplorasi dan mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia punya keindahan alam yang luar biasa, walau aksesnya susah. Di sisi lain, kadang gue berharap orang tetep nggak banyak tahu tentang keindahan Indonesia, biarin aja aksesnya susah, biar nggak dikotorin sama pengunjungnya.














Terima kasih Segara Anakan buat keindahannya. Terima kasih juga, kalian :*





09 March 2014

Kenapa ke Segara Anakan?

Dalam sekali Googling gambar Pulau Sempu, gue udah jatuh cinta. Apalagi di foto-foto yang gue lihat selalu menampilkan keadaan Pulau Sempu yang lagi sepi. Bagian Pulau Sempu yang gue maksud adalah bagian Segara Anakan-nya Nih, gue spoiler fotonya yaa~

Gue mencoba membayangkan, apa rasanya camping di tempat yang terpencil? Gue katakan terpencil karena untuk sampai di sana aja kita diharuskan menyusuri hutan yang lumayan jauh dan memang letaknya jauh dari mana-mana. Apa rasanya bermalam di tepian pantai dan nggak ada orang lain lagi di sana selain gue dan temen-temen gue? Wow. Membayangkan itu aja udah bikin gue deg-degan, campuran antara girang, penasaran, dan entah apa lagi.

Namun, setelah beberapa lama, keinginan gue untuk jelajah ke Segara Anakan belum juga terlaksana. Nggak ada partner jalan yang bisa, yang available, dan yang mau diajak camping di sana. Kalaupun ada itu hanya 1-2 dan itupun masih nggak pasti. Yah, nggak heran, letaknya jauh dari Bandung, dan beberapa yang gue ajak menyatakan menyerah duluan kalau harus menempuh perjalanan yang seperti mereka baca dari blog orang yang pernah ke sana.

Sampai akhirnya, ketika itu, temen-temen yang waktu itu liburan bareng ke Pangandaran bikin wacana untuk ngetrip ke Malang, setelah acara wisuda. Singkatnya, seperti yang udah gue ceritakan sekilas di postingan Balada Matarmaja. Tadinya trip ini diperuntukkan untuk rombongan sekitar 15-20 orang. Tapi perlahan berkurang, hingga akhirnya menyisakkan sekitar 10 orang yang menyusut menjadi 8 orang.

Destinasi pun diperbarui. Dari yang tadinya cuma difokuskan untuk main di Kota Malang aja, diganti menjadi.. "karena orangnya cuma dikit coba kita ganti destinasinya ke tempat yang lebih spektakuler..'

Setelah browsing, rapat-rapat unyu di McD sambil jadi fakir wi-fi, dipilihlah Kawah Ijen dan PUlau Sempu. Sempu!!

Perjalanan dari Malang menuju Pulau Sempu lebih selow daripada perjalanan Malang ke Kawah Ijen. Kenapa? Dari Malang kami nyarter angkot menuju Pantai Sendang Biru. Perjalanan Malang-Sendang Biru ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam. Sebelumnya kami mampir dulu ke tempat penyewaan alat-alat outdoor untuk mengambil tenda dan peralatan camping lainnya.

Sesampainya di Sendang Biru sekitar jam setengah 4. Setelah melapor ke pos  yang ada di situ. Mereka menawarkan kami untuk menyewa sepatu karet seharga 10ribu, mengingat beberapa hari lalu hujan, jalanan becek, dan bakalan licin kalau harus berjalan menggunakan hanya sepatu biasa. Kami juga ditawarkan untuk menyewa guide, yang seteah dipikir-pikir perlu juga, mengingat waktu itu sudah sore, daripada kemaleman dan tersesat mendingan pake guide. Untuk sekali rombongan itu tarifnya 150ribu.

Tips buat yang mau ke sana, siapin banyak persediaan air, buat minum selama perjalanan, buat minum selama camping di Segara Anakan, dan buat masaka makanan selama camping. Soalya kalo keabisan air nggak bisa beli di warung, lagian kalo di sana lo ngeliat ada warung asongan, saran gue sih mendingan lari, hihihi.

08 March 2014

Danau Kawah Ijen

Keindahan Kawah Ijen ternyata nggak berhenti pada malam itu saja. Setelah semalaman dan sepagi buta-an gue dihibur dengan lidah api biru yang menjulur-julur, paginya gue kembali dikasih pemandangan yang bikin gue nggak pengen beranjak dari sana.

Danau Kawah Ijen.

Danau Kawah Ijen merupakan danau asam di Indonesia. Air danau yang suhunya panas ini bercampur dengan belerang dan mengubah sifat airnya menjadi asam. Pantesan aja sepatu Converse temen gue yang secara nggak sengaja kecemplung di situ langsung mengalami perubahan warna. Jahat banget airnya.

Warna air danau Kawah Ijen ini mirip dengan warna air di Kawah Putih, Bandung. Dengan warna hijau kebiruan, asap putih dari yang keluar dari suhu air yang panas membuat danau tersebut terlihat cantik sekaligus misterius.

Dikelilingi tebing, cahaya matahari pagi perlahan muncul dan mulai menerangi tebing. Dari senja yang pekat berwarna oranye hingga akhirnya matahari naik ke atas dan menyisakan terang.

Pemandangan pagi itu sukses bikin gue rasanya nggak mau balik lagi.












Kawah Ijen Crater dan Langit Berbintangnya

Yay! Akhirnya pendakian menuju puncak Kawah Ijen pun dimulai. Langkah demi langkah gue lalui. Setiap langkah yang gue lewati membuat gue tersadar kalo gue udah jarang banget olahraga. Baru beberapa meter nanjak gue udah ngos-ngosan. Puncaknya adalah ketika sampai di batas pagar dimana nantinya kami akan turun mendekati blue fire.

Baru kali itu gue ngerasain susah napas. Udara yang gue hirup kayaknya nggak nyangkut di paru-paru. Selain capek, sesak napas kali itu juga disponsori oleh asap belerang yang baunya bikin hidung pedes. Buat tips aja yak, mendingan kalo mau mendaki gunung yang isinya asap belerang gini pake baju yang paling jarang lo pake, baunya belerang yang nempel di baju nantinya bakalan awet banget. Bahkan setelah 2 bulan di cuci-kering-pake baunya masih ada.

Tadinya gue nggak mau turun ke tempat blue fire nya, takut tambah sesak, mana pake bersin-bersin pula gue. Serba salah, kalo pake masker napas gue jadi kesembur ke kacamata dan itu bikin kacamata gue berembun, gue jadi susah ngeliat jalan. Tapi kalo nggak pake masker, hidung gue gatel.

Hati gue ciut liat jalanan berbatu yang gelap dan curam. Tapi.. gue sudah berjalan sejauh ini, agak dongo, dan sayang banget sih kalo berhenti. Lagi pula, rasanya gue masih kuat kok.

Perjalanan malam itu dilanjut dengan melewati bebatuan kapur yang tidak bersahabat dengan sepatu gue yang sol bawahnya mulai aus. Licin. Penerangan yang minim menambah tingkat kesenewenan gue malam itu.

Walau begitu ada rasa malu sendiri ketika melihat para pengangkut batu yang wara-wiri di sepanjang jalan. Batu yang dipanggul oleh bapak-bapak tersebut beratnya tidak ada yang kurang dari 80kilogram, sementara gue ngebawa badan doang aja rasanya udah kayak ikan diangkat dari air, engap.

Tidak ada yang terburu-buru. Tiap langkah para pemanggul batu tersebut pelan, pasti, dan terasa sekali kalau yang mereka panggul itu memang sesuatu yang luar biasa berat. Hanya hembusan nafas pelan yang bercampur dengan desau angin. Sesunyi itu.

Jalan malam itu kayak nggak ada ujungnya. Gue terus berjalan, bebatuan terus mengulangi polanya. Langit malam itu bertabur bintang, penuh, ramai. Tiap break pendakian gue manfaatkan dengan berbaring di bebatuan dan menatap bintang di langit. Gue nggak ngerti harus minta apa lagi? Pemandangan ini lebih dari apa yang gue harapkan.

Akhirnya, Blue Fire terlihat. Lega. Senang. Girang. Sekaligus males, kalo harus mikirin jalan balik lagi ke starting poin. Tapi.. gue puas dengan apa yang gue lihat.

Blue Fire nya memang nggak sama dengan apa yang ada di bayangan gue. Blue Fire di Kawah Ijen lebih mini dari apa yang gue bayangkan. Tapi, rasa penasaran gue terpenuhi. Satu dari sekian target gue bisa gue beri tanda centang sekarang.

Lidah api biru menjulur-julur dari retakan gunung, dari pipa yang memanjang di sana. Agak ke bawah, ada aliran cairan belerang yang berwarna merah kayak karamel. Gue cuma bisa membayangkan menuangkan cairan merah itu ke atas ice cream.

Semuanya berfoto. Mengingat katanya Blue Fire yang satu lagi adanya di Islandia, maka gue merasa ini seharusnya adalah pemandangan mahal yang gue tempuh dengan harga murah dan effort yang.. yah, biasa aja.

Meski begitu, buat gue pribadi. Langit berbintangnya Ijen lebih terasa spektakuler daripada Blue Fire-nya sendiri. Entahlah.

Sayang bintangnya nggak sempat kefoto.